Please ensure Javascript is enabled for purposes of website accessibility Survei Setara: Intoleransi dalam Satu Kelompok Lebih Besar - Setara
Cari Publikasi Media yang Kamu Butuhkan

Survei Setara: Intoleransi dalam Satu Kelompok Lebih Besar

Tanggal RilisMei 25, 2016KategoriBerita & LiputanBagikan

TEMPO.COJakarta – Setara Institute melaporkan hasil survei Toleransi Siswa SMA Negeri di Jakarta dan Bandung Raya. Salah satu dimensi yang mereka gali adalah klaim dan kecenderungan keyakinan beragama para siswa responden.

“Studi-studi kami menunjukkan intoleransi ke dalam lebih besar, yaitu yang terhadap aliran tertentu dalam satu agama, tapi terhadap agama lain tidak,” ujar Wakil Ketua Setara Institute Bonar Tigor Naispospos di Cikini Raya, Jakarta, Selasa, 24 Mei 2016.

Dari total 760 siswa responden, mayoritas beragama Islam sebesar 88 persen, sedangkan Kristen 9,2 persen, Katolik 2,6 persen, Hindu 0,1 persen, dan tanpa Buddha dan Konghucu. Usia responden berkisar 15-19 tahun. Laki-laki merupakan responden terbesar 57 persen, dan perempuan 43 persen.

Siswa mengklaim kebenaran tertinggi atas agama yang dianutnya sebesar 97,1 persen. Dalam pertanyaan berbeda, yang menjawab agama lain tidak benar sebanyak 68,9 persen. Di sisi lain, sampel mengatakan orang yang tidak beragama sebagai tidak bermoral dan/atau kafir.

Penelitian ini juga menyoroti isu perbedaan dalam Islam. Pertanyaan: apakah setuju untuk membatasi perkembangan aliran tertentu seperti Ahmadiyah dan Syiah mendapat respons tidak setuju sebanyak 255 responden atau 41 persen. Sisanya, 224 responden atau 36 persen menjawab setuju, dan 145 responden atau 23 persen menjawab tidak tahu/tidak menjawab.

Pemahaman responden tentang toleransi menunjukkan sebanyak 607 responden atau 82 persen memilih arti toleransi adalah menghormati perbedaan dan menjaga agar tidak terjadi konflik. Sebanyak 128 responden atau 17 persen memilih arti toleransi adalah hanya menghormati perbedaan.

Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listiyarti, yang turut aktif dalam pelatihan guru-guru, berbagi pengalaman. Dia mengatakan guru-guru mendukung sikap anti-kekerasan, tapi ketika kekerasan itu terjadi pada aliran agama tertentu, ada perbedaan sikap. “Ketika video Ahmadiyah diputar, katanya kekerasan terhadap Ahmadiyah boleh saja. Ngeri banget kalau guru-guru seperti ini menyebar,” ujarnya.

Dia berpandangan, yang memegang peranan tidak kalah penting adalah guru. Penelitian ini menunjukkan pengetahuan keagamaan siswa oleh guru didapatkan angka 39,9 persen, dan oleh orang tua sebesar 23,2 persen.

Survei itu menyimpulkan, 61,1 persen dari 760 siswa yang terlibat termasuk kategori toleran; 35,7 persen intoleran pasif (puritan); 2,4 persen yang intoleran aktif; dan 0,3 persen atau sekitar 3-4 orang dikatakan berpotensi menjadi teroris.

Meski begitu, penelitian ini tak diklaim sebagai representasi siswa di Indonesia. Bonar juga menilai pelajar ada dalam taraf pencarian jari diri, masih labil dengan adanya faktor eksternal dan internal, serta peran orang tua, guru, dan Internet yang sangat vital.

AKMAL IHSAN

Sumber : Tempo.co

Media Terkait

Jelajahi Media

Selengkapnya

Penyelidik dan Penyidik Polri Seharusnya Polisi Yudisial

Berita & Liputan
Desember 16, 2025
Reformasi Sektor Keamanan

Presiden Prabowo Subianto telah merespons usulan masyarakat tentang kepolisian. Usulan ini mengemuka dalam aksi demonstrasi...

Lihat Detail

Kondisi Kebebasan Beragama/Berkeyakinan (KBB) 2024

Berita & Liputan
Juni 1, 2025
Kebebasan Beragama/Berkeyakinan

Pada tahun 2024, SETARA Institute kembali merilis laporan tahunan mengenai situasi kebebasan beragama dan berkeyakinan...

Lihat Detail

Sudahkah Negara Adil Terhadap Perempuan?

Berita & Liputan
Maret 4, 2025
Hukum dan Konstitusi

Dominasi patriarki yang telah tertanam kuat masih menjadi persoalan dalam mengakselerasi kesetaraan gender. Dalam kondisi...

Lihat Detail

Survei Setara: Intoleransi dalam Satu Kelompok Lebih Besar