Please ensure Javascript is enabled for purposes of website accessibility Konflik Masa Lalu Mendorong Dua Kota Menjadi Daerah Paling Toleran - Setara
Cari Publikasi Media yang Kamu Butuhkan

Konflik Masa Lalu Mendorong Dua Kota Menjadi Daerah Paling Toleran

Tanggal RilisNovember 18, 2015KategoriBerita & LiputanBagikan

Meskipun memiliki masa lalu intoleransi yang kelam, beberapa kota seperti Tual dan Ambon termasuk di antara daerah paling toleran di negara ini, menurut kelompok hak asasi manusia, SETARA Institute.

Lembaga tersebut merilis indeks kota toleran pertamanya pada hari Senin, di mana Tual dan Ambon, keduanya di Provinsi Maluku, meraih dua skor tertinggi dalam daftar 10 kota paling toleran di Indonesia.

“Alasannya sederhana. Penduduk di sana memiliki ingatan kolektif [mengenai bentrokan kekerasan di masa lalu] yang membuat mereka menyadari bahwa konflik komunal merugikan mereka. Oleh karena itu, mereka berusaha sekuat tenaga untuk menghindari konflik,” kata Wakil Ketua Setara, Bonar Tigor Naipospos.

Pada tahun 1999, bentrokan sektarian berdarah meletus di Ambon dan Tual, meninggalkan korban jiwa lebih dari 2.000 orang. Kerusuhan di Tual diduga meletus karena kebencian rasial yang diprovokasi oleh orang tak dikenal yang dilaporkan menghina umat Islam dan kitab suci mereka serta menodai nama Nabi Muhammad.

“Setelah itu, komunitas agama di sana secara aktif mencoba melakukan pertemuan lintas agama. Para pemimpin agama juga secara aktif mencari dialog di antara mereka. Jadi mereka belajar dari masa lalu,” kata Bonar. “Melihat bagaimana masyarakat Indonesia masih mengadopsi budaya patriarki, peran tokoh agama dan kepala daerah menjadi sangat penting dalam mempromosikan toleransi.”

Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Muhammad Imdadun Rahmat mengungkapkan teori yang sama.

“Ketika suatu daerah dirusak oleh konflik, maka ada kemungkinan masyarakatnya mengalami pencerahan dan aparatur negaranya juga belajar dari pengalaman masa lalu, yang membuat mereka lebih peduli dan menghargai kemajemukan serta lebih berhati-hati dalam mengelola perbedaan,” katanya.

Menurut Imdadun, komisi tersebut belum menerima satu pun laporan tentang intoleransi beragama dari Ambon maupun Tual tahun ini.

Sementara itu, Direktur Riset Setara, Ismail Hasani, mengatakan bahwa era intoleransi beragama di Ambon sudah lama berlalu, di mana daerah tersebut telah bangkit dari abu konflik berdarah.

“Keseimbangan masyarakat di Ambon merata dan Ambon memiliki kekuatan luar biasa pasca-konflik,” katanya, seraya menambahkan bahwa kisah sukses Ambon terletak pada heterogenitas masyarakatnya.

Sisa daftar tersebut diisi oleh kota-kota seperti Pematang Siantar, Salatiga, Singkawang, Manado, Sibolga, Sorong, Pontianak, dan Palangkaraya.

SETARA Institute menyusun daftar ini setelah menganalisis empat variabel, seperti keberadaan peraturan diskriminatif dan konflik agama, di 94 kota di seluruh Indonesia dari Agustus hingga November 2015.

Bonar mengatakan kota-kota ini mendapat skor tinggi dalam indeks karena berbagai faktor, seperti adanya peraturan yang mempromosikan toleransi, kurangnya konflik agama dalam beberapa tahun terakhir, dan demografi.

“Kami menyadari bahwa Indonesia sangat luas dan setiap kota memiliki karakternya sendiri, jadi tidak mudah untuk menyamaratakan [mengapa suatu kota dianggap lebih toleran daripada yang lain],” katanya.

Sementara itu, Bogor mencetak skor terendah dalam daftar tersebut, diikuti oleh Bekasi, Banda Aceh, Tangerang, Depok, Bandung, Serang, Mataram, Sukabumi, dan Banjar/Tasikmalaya.

“Ada banyak kejadian buruk belakangan ini di Bogor, seperti rencana relokasi Gereja Kristen Indonesia [GKI] Yasmin oleh pemerintah kota Bogor dan pelarangan komunitas Syiah di Bogor untuk merayakan hari raya keagamaan mereka, Asyura,” katanya.

Bonar menambahkan bahwa pemerintah harus memperhatikan daftar tersebut.

“Saya menyarankan menteri dalam negeri [Tjahjo Kumolo] untuk memperhatikan temuan ini dan mengambil langkah-langkah untuk berkoordinasi dengan pemerintah kota sehingga ada upaya yang lebih serius untuk meningkatkan kebebasan beragama,” katanya.

Hans Nicholas Jong, The Jakarta Post, Jakarta

Sumber : The Jakarta Post

Media Terkait

Jelajahi Media

Selengkapnya

Penyelidik dan Penyidik Polri Seharusnya Polisi Yudisial

Berita & Liputan
Desember 16, 2025
Reformasi Sektor Keamanan

Presiden Prabowo Subianto telah merespons usulan masyarakat tentang kepolisian. Usulan ini mengemuka dalam aksi demonstrasi...

Lihat Detail

Kondisi Kebebasan Beragama/Berkeyakinan (KBB) 2024

Berita & Liputan
Juni 1, 2025
Kebebasan Beragama/Berkeyakinan

Pada tahun 2024, SETARA Institute kembali merilis laporan tahunan mengenai situasi kebebasan beragama dan berkeyakinan...

Lihat Detail

Sudahkah Negara Adil Terhadap Perempuan?

Berita & Liputan
Maret 4, 2025
Hukum dan Konstitusi

Dominasi patriarki yang telah tertanam kuat masih menjadi persoalan dalam mengakselerasi kesetaraan gender. Dalam kondisi...

Lihat Detail

Konflik Masa Lalu Mendorong Dua Kota Menjadi Daerah Paling Toleran