Lembaga pemantau demokrasi dan hak asasi manusia, Setara Institute, mencatat adanya peningkatan pelanggaran kebebasan beragama. Berdasarkan pengamatan lembaga tersebut, jumlah provinsi yang mengalami kasus intoleransi beragama meningkat dari 13 pada tahun 2012 menjadi 20 pada tahun 2013.
“Pelanggaran terjadi di daerah-daerah yang sebelumnya tidak pernah mengalami pelanggaran,” kata Wakil Ketua Setara Institute, Bonar Tigor Naipospos, di Jakarta kemarin.
Menurut Bonar, intoleransi menyebar seperti virus. Berbagai tindakan intoleran ditiru oleh kelompok-kelompok yang menganggapnya sebagai hal yang benar untuk dilakukan. Ia mengatakan bahwa pelanggaran tersebut sering dilakukan atas nama agama. Respons pemerintah yang lambat disebut-sebut sebagai penyebab meningkatnya kasus intoleransi.
Bonar menambahkan bahwa Setara Institute juga mencatat meningkatnya kasus intoleransi terhadap penganut Syiah. Pengusiran penganut Syiah di Sampang, Madura, pada Agustus 2012 disebut-sebut sebagai penyebab meningkatnya intoleransi terhadap Syiah.
Meskipun jumlah provinsi yang mengalami kasus pelanggaran kebebasan beragama terus bertambah, Bonar menjelaskan bahwa jumlah kasus berbasis agama justru menurun sebesar 16 persen pada tahun 2013. Namun, ia menekankan bahwa hal itu tidak berarti toleransi beragama semakin membaik.


