Please ensure Javascript is enabled for purposes of website accessibility Politisasi SARA dalam Pilkada Serentak 2018 - Setara
Cari Publikasi Media yang Kamu Butuhkan

Politisasi SARA dalam Pilkada Serentak 2018

Tanggal RilisJuni 28, 2018KategoriSiaran PersBagikan

  1. Pilkada serentak gelombang ketiga di 171 daerah provinsi, kabupaten, dan kota telah berlangsung dengan aman, damai, dan terkendali. SETARA Institute memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pemerintah, aparat keamanan dan masyarakat sipil yang telah bekerja keras mengawal pelaksanaan pesta demokrasi di tingkat lokal agar terlaksana sesuai asas langsung, umum, bebas, rahasia, dan adil.
  2. Secara umum, SETARA Institute memantau dengan saksama pelaksanaan Pilkada sebagai manifestasi hak universal warga negara untuk memilih sekaligus mengekspresikan kedaulatan politik mereka menggunakan perspektif inklusi politik, dimana seluruh anak bangsa dengan latar belakang identitas primordial apapun memiliki hak yang sama untuk terlibat di dalam kompetisi politik elektoral, sesuai dengan amanat Pasal 27 Ayat (1) yang menyatakan “Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.”
  3. Dalam perspektif itu, Jika dibandingkan dengan dinamika Pilkada Serentak gelombang kedua tahun 2017, khususnya pada Pilkada DKI, kuantitas dan intensitas politisasi SARA relatif kecil. Terciptanya dinamika elektoral yang lebih baik tersebut jelas dipengaruhi oleh multiplisitas faktor, mulai dari kandidasi, komposisi partai politik pengusung paslon, dinamika elit, hingga kultur politik masing-masing daerah. Namun, secara khusus hal itu juga dipengaruhi oleh baiknya kinerja Satgas Nusantara yang dibentuk oleh Mabes Polri untuk mencegah dan menangani politisasi SARA dalam kampanye Pilkada, serta nantinya Pemilu dan Pilpres.
  4. Secara spesifik, pada Pilkada serentak tahun ini, SETARA Institute melakukan monitoring politisasi SARA dalam pemilihan gubernur di empat provinsi, yaitu Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Dengan mengkomparasikan data di empat wilayah pemantauan, secara kuantitatif politisasi SARA paling banyak terjadi di Pilgub Sumatera Utara, disusul kemudian Jawa Barat. Sedangkan Jawa Tengah dan Jawa Timur tidak terpantau aktivitas signifikan politisasi SARA.
  5. Pada Pilgub Sumut, pasangan Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus (DJOSS) menjadi korban tiga belas (13) bentuk kampanye bermuatan politisasi SARA dengan banyak isu, mulai dari soal Djarot bukan putra daerah dan keislamannya diragukan, larangan memilih pendukung penista agama (Ahok/Basuki Tjahaja Purnama), larangan memilih pemimpin nonmuslim, politisasi masjid, hingga ‘tamasya Al-Maidah’ pada hari pencoblosan. Sedangkan pasangan Edy Rahmayadi-Musa Rajeckshah (ERAMAS) menjadi sasaran satu (1) bentuk kampanye bermuatan politisasi SARA yaitu kampanye hitam “kupon zakat palsu”. Jika data pemantauan tersebut disandingkan dengan sebaran suara dalam hitung cepat beberapa lembaga survei, politisasi SARA (khususnya agama) pada Pilgub Sumut cukup efektif, dimana pasangan ERAMAS mendominasi suara hingga di atas 85% di kabupaten-kabupaten dengan penduduk mayoritas beragama Islam, seperti Kabupaten Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, Padang Lawas Utara, Labuhan Batu, Asahan, Labuhan Batu Selatan, Labuhan Batu Utara, Kota Tanjung Balai, Padang Sidimpuan, dan sebagainya.
  6. Dalam Pemilihan Gubernur Jawa Barat, Pasangan Calon Nomor Urut 1 (Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum/Rindu) dan Paslon Nomor Urut 4 (Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi/2DM) menjadi korban paling banyak politisasi SARA. Pasangan Rindu menjadi sasaran politisasi SARA dalam 3 (tiga) bentuk kampanye dengan dua isu utama, yaitu 1) Ridwan Kamil penganut Syi’ah dan 2) Pasangan Rindu ‘tidak syar’i’ karena didukung dan mendukung LGBT. Sedangkan pasangan 2DM menjadi sasaran 3 (tiga) bentuk kampanye, juga dengan dua isu utama, yaitu 1) Pasangan 2DM didukung oleh paranormal dan penganut kepercayaan, dan 2) Pasangan nomor urut 4 ‘tidak syar’i’ karena memohon dukungan kepada sosok gaib melalui ritual mistis. Jika disandingkan dengan data sebaran suara menurut hitung cepat beberapa lembaga survei, kampanye politisasi SARA tersebut patut diduga efektif bekerja di perkotaan, khususnya di daerah-daerah satelit DKI Jakarta.
  7. Melihat praktik politisasi SARA dalam Pilkada 2018 dan besarnya potensi politisasi SARA dalam Pemilu dan Pilpres 2019, SETARA Institute merekomendasikan; 1) Satgas Nusantara hendaknya melakukan akselerasi kinerja secara lebih strategis melalui pemetaan kerawanan politisasi SARA; 2) Penyelenggara Pemilu khususnya dalam wadah Penegak Hukum Terpadu (Gakkumdu) serta kepolisian hendaknya melakukan akselerasi kinerja penegakan hukum atas tindakan-tindakan kampanye SARA yang melanggar Pasal 69 huruf b UU Pilkada, Pasal 160 ayat (1) KUHP, dan Pasal 28 juncto Pasal 45 ayat (2) UU ITE; 3) Kontestan, parpol pengusung, dan kelompok pendukung paslon hendaknya menghindari politisasi SARA sebagai cara buruk dalam kompetisi politik elektoral, sebab hal itu mengancam harmoni, kohesi sosial, dan integrasi nasional Indonesia sebagai bangsa dan negara Pancasila yang Bhinneka Tunggal Ika.

SETARA Institute, 28 Juni 2018.

Narahubung:
Bonar Tigor Naipospos, (Wakil Ketua Setara Institute): 081 1819 174
Halili, (Direktur Riset Setara Institute) 0852 3000 8880

Media Terkait

Jelajahi Media

Selengkapnya

Menguji Langkah Reformasi Polri: Dari Penunjukan Kapolri Langsung oleh Presiden hingga Penegasan Jabatan Sipil untuk Anggota Polri

Siaran Pers
Desember 14, 2025
Reformasi Sektor Keamanan

Dua isu krusial muncul dalam momentum percepatan reformasi Polri, yakni wacana penunjukan langsung Kapolri oleh...

Lihat Detail

Urgensi Penguatan Prinsip Penghormatan HAM dan Lingkungan dalam Skema Industri Nikel: Temuan Riset Responsible Mining 2025 di Sulawesi Tenggara

Siaran Pers
Desember 12, 2025
Bisnis dan HAM

Diseminasi dan Seminar Publik Responsible Mining Sektor Nikel di Sulawesi Tenggara yang diselenggarakan oleh Universitas Halu Oleo...

Lihat Detail

Indeks HAM 2025: Menata Orientasi Pemajuan HAM

Siaran Pers
Desember 10, 2025
Hukum dan Konstitusi

Pada momentum Hari HAM Internasional 2025, SETARA Institute menyusun Indeks HAM 2025 sebagai gambaran tentang...

Lihat Detail

Politisasi SARA dalam Pilkada Serentak 2018