DIRJEN Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Machasin menyampaikan apresiasi hasil riset Setara Institute yang menunjukkan hasil positif kondisi toleransi siswa.
“Ya kita patut bersyukur jika pemahaman toleransi siswa kita membaik dalam kehidupan keberagamaan ini penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita dalam bingkai NKRI,” kata Machasin, Rabu 25/5).
Kendati begitu ia mengaku perihatin terhadap kasus kekerasan seksual dan narkoba yang masih menimpa para pelajar di tanah air.
Seperti diberitakan, hasil survei lembaga riset Setara Institute menunjukan mayoritas pelajar SMA Negeri di Jakarta dan Bandung dalam pemahaman toleransi menunjukan hasil positif. Pasalnya, dari 760 siswa yang menjadi responden terdapat 61,6 persen memunyai sikap toleran yang baik.
Saat ditanya masih tingginya intoleransi dalam masyarakat, Machasin tidak menampik. Ia mencontohkan fakta di masyarakat seperti di Bali ada pelajar muslim tidak boleh berjilbab dan di Singkil Aceh ada pelajar non muslim diwajibkan belajar agama Islam.
Dia meminta agar hal.ini dapat ditangani dengan penuh kesadaran oleh pihak dinas pendidikan atau kanwil kemenag di daerah serta kepala sekolah. Di kedua daerah itu ia berharap toleransi beragama dapat diterapkan dengan baik.
Dalam masalah di Singkil ia juga meminta adanya kesadaran pihak setempat tidak secara kaku menerapkan syariat agama yang merujuk pada Qanun. Padahal,kata dia, Qanun itu khusus ditujukan berlaku bagi yang muslim.
Menurut Machasin, adanya pemaksaan pelajar non muslim belajar agama yang bukan dianutnya sebagai bentuk cerminan toleransi yang kurang pas. “Ini kan akan berdampak kurang baik jika ada pemaksaan seperti itu dalam kehidupan dan toleransi beragama kita,” pungkas Machasin.