REVISI KEEMPAT UU MK, AGRESI LEGISLASI LEMAHKAN MK

REVISI KEEMPAT UU MK, AGRESI LEGISLASI LEMAHKAN MK

Siaran Pers SETARA Institute
Jakarta, 15 Mei 2024

DPR dan Pemerintah secara diam-diam telah menyetujui perubahan keempat terhadap Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 sebagaimana terakhir diubah dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2020 tentang Mahkamah Konstitusi (UU MK) untuk dibahas pada rapat paripurna. Persetujuan perubahan tersebut dilaksanakan secara diam-diam pada rapat pleno tingkat I di DPR bersama dengan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) dan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) pada masa reses DPR.

Menanggapi isu tersebut, SETARA Institute menyatakan beberapa sikap:

Pertama, baik DPR dan Pemerintah telah melakukan kekeliruan yang sama dengan pembahasan revisi UU MK sebelumnya, yakni UU No. 7 Tahun 2020. Pembahasan yang dilakukan secara kilat dan dalam forum tertutup sejatinya melanggar asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 sebagaimana terakhir diubah dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2022 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Asas-asas berupa kejelasan tujuan dan keterbukaan telah dilanggar dalam pembahasan revisi UU MK tersebut.

Kedua, baik DPR dan Pemerintah sekali lagi telah abai dengan partisipasi bermakna (meaningful participation) dalam pembentukan peraturan perundang-undangan. Gagalnya pemenuhan partisipasi tersebut berarti kegagalan terpenuhinya syarat formil dalam pembentukan peraturan perundang-undangan. Tidak terpenuhinya syarat formil akan membuat revisi UU MK tidak memiliki validitas hukum.

Ketiga, baik DPR dan Pemerintah sesungguhnya secara sengaja terus menerus melemahkan kelembagaan MK melalui agresi legislasi yang mengurangi efektivitas pembatasan kekuasaan serta checks and balances. Revisi UU MK ini adalah bentuk penggunaan instrumen hukum yang meruntuhkan tatanan demokrasi konstitusional yang telah dibangun sejak era Reformasi demi melindungi berbagai agenda politik tertentu.

Keempat, ketentuan mengenai pemberhentian hakim konstitusi melalui evaluasi hakim pada Pasal 23A membuka ruang intervensi pada kekuasaan kehakiman yang pada hakikatnya, menurut Pasal 24 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, merupakan kekuasaan negara yang merdeka. Mekanisme evaluasi hakim ini merupakan bentuk court packing (usaha untuk mengatur komposisi hakim pada lembaga yudikatif, bertujuan untuk memenuhi misi-misi partisan dan kehendak penguasa), dengan mengeliminasi hakim-hakim konstitusi yang tidak sejalan dengan kekuasaan politik dan mengganti mereka dengan individu-individu hakim medioker dan patuh pada penguasa.

Kelima, berdasarkan hal tersebut, SETARA Institute mendesak DPR dan Pemerintah untuk membatalkan revisi UU MK. Usaha pelemahan MK akan melemahkan bangunan demokrasi konstitusional yang telah dipilih sebagai sistem politik dan pemerintahan pasca-Reformasi. MK harus bebas dari intervensi kekuasaan politik serta melaksanakan tugas dan wewenangnya sebagai memastikan prinsip supremasi konstitusi ditegakkan. Praktik agresi legislasi berulang harus disudahi karena berpotensi mengkhianati kedaulatan rakyat yang menjadi sumber legitimasi kekuasaan.[]

Narahubung:
Ismail Hasani, Peneliti Senior SETARA Institute & Dosen Hukum Tata Negara UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Azeem Marhendra Amedi, Peneliti Hukum dan Konstitusi SETARA Institute

Sharing is caring!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*