5 comments

  1. Kaisyah Alifia Boom

    agama sangat berperan penting dalam tumbuhnya toleransi maupun intoleransi dalam masyarakat. data diatas menunjukkan baik aksi atau peristiwa intoleransi masih berkembang dan memberikan dampak buruk bagi persepsi atau sudut pandang masyarakat mengenai pluralisme.

  2. Julyana Febriati Ningsih

    Dalam artikel yang berjudul “Memahami Situasi Intoleran” memuat tentang data-data peristiwa intoleran di Indonesia. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat banyak tindakan intoleran yang ada di masyarakat. Sebagai negara yang beragam, masyarakat seharusnya sadar bahwa kita harus menjunjung tinggi rasa toleransi antar sesama untuk mencapai kerukunan dan persatuan bangsa. Dalam keadaan saat ini, memungkinkan tindakan intoleran mudah dilakukan. Karena masyarakat sepenuhnya mengandalkan teknologi untuk beraktifitas. Kini sudah banyak masyarakat yang mampu mengakses media sosial. Apalagi dalam media soal yang ada, kita dapat bertindak secara anonim. Seperti menyebarkan berita dan berkomentar yang dapat memperpecah masyarakat padahal tidak sesuai faktanya.

    Tindakan intoleran bisa diatasi dengan langkah awal kontribusi dari diri kita sendiri, supaya orang disekitar terpengaruh dan mengikutinya. Selanjutnya bisa dengan pembekalan dan penanaman sifat toleransi sejak dini, melalui sekolah formal. Selain pemberian materi secara teori juga harus diberi materi secara praktik. Pemerintah juga harus berkontribusi besar dalam penyelesaian masalah ini agar tidak semakin buruk. Yaitu dengan cara mengadakan sosialisasi ke masyarakat serta menyeleksi calon pemimpin mengenai pengetahuan kewarganegaraannya. Tindakan intoleransi di media sosial juga harus diatasi, dengan pemberian sosialisasi penggunaaan media sosial secara bijak, serta dipaparkan konsekuensi hukum yang akan ditempuh apabila tak bijak dalam menggunakan media sosial. Dari data dalam artikel, ternyata pelajar banyak melakukan tindak intoleran di media sosial, karena media sosial dapat diakses oleh semua umur. Namun sebenarnya, dalam penggunaan media sosial pun sudah ada batasan usia penggunanya. Maka dari itu, pengawasan orang tua sangat dibutuhkan dalam mengontrol media sosial anak-anaknya yang di bawah umur.

    Dari artikel tersebut dapat disimpulkan bahwa pemahaman dan implementasi pendidikan Pancasila di masyarakat bisa dibilang kurang, sehingga masih marak terjadi kegiatan intoleran. Oleh karena itu, kita perlu memulainya dari diri sendiri untuk memberantas intoleran dengan meningkatkan pengetahuan kewarganegaraan kita dan mengimplementasikan dengan baik.

  3. Konteks kerukunan antar suku, agama, ras dan antargolongan atau yang populer disingkat SARA, menjadi bahasan yang menonjol dalam bangunan tema kerukunan hidup dalam berbangsa dan bernegara. Istilah kerukunan beragama menyiratkan sisi kontradiktif dari status substansial agama sebagai sumber hal-hal baik di satu sisi dengan status sosiologis konkritnya yang menunjukkan kemungkinan adanya konflik, pertentangan, perbedaan bahkan kekerasan. Dimensi paradoksal ini berkaitan dengan sisi ganda dalam klaim internal-eksternal yang terkandung dalam setiap sistem nilai agama-agama, yakni di satu sisi semua agama mengajarkan kebaikan, keadilan dan perdamaian yang total dan universal sementara pada saat yang sama, di sisi yang lain, mereka masing-masing mengklaim sebagai yang lebih baik dibandingkan dengan yang lain. Institusionalisasi pembudayaan Pancasila juga telah dilakukan oleh Presiden Jokowi dengan membentuk Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Pemerintah sudah memulai dan terus akan bekerja. Penting bagi kita semua untuk menyuarakan langkah baru yang sudah dirintis oleh pemerintah. Dań langkah untuk menurunkan angka intoleransi di indonesia adalah dengan menciptakan keharmonisan, saling menghargai dan menyayangi terhadap perbedaan yang ada di Negara Indonesia.

  4. Indonesia sendiri memiliki title sebagai negara multikultur, yang berarti ada banyak perbedaan di dalamnya baik suku,ras ataupun agama. Topik di atas menitik beratkan pada sikap intoleransi dan adanya pembatasan kebebesan beragama. Sebagai negara multikultur dan memiliki Pancasila sebagai dasar negara kita, sudah selayaknya dan seharusnya kita menunjukkan sikap sebagai warga negara multikultur, dimana perbedaan bukanlah suatu masalah tapi justru sebagai pemersatu. Sangat miris jika di era sekarang apalagi di dalam negara yang memiliki title multikultur dengan banyak perbedaan tidak bisa bersikap saling toleransi.

  5. Menurut saya benar bahwa seharusnya konteks agama tidak perlu dipertanyakan tentang kebaikannya, karena sudah pasti agama mengajarkan kebaikan kepada umatnya. Dan kembali lagi seharusnya tidak ada umat agama yang merasa paling benar agama nya, karena pada dasar nya semua agama itu sama.

    Untuk kasus pelajar yang intoleran dengan ideologi Pancasila, mungkin sebaiknya kita menggalakkan penanaman nilai Pancasila sejak dini, dan ketika akan beranjak dewasa sebaiknya diberi materi dan pembelajaran betapa universalnya ideologi Pancasila itu.

    Dan untuk ASN yang intoleran dengan ideologi Pancasila, mungkin langkah yang bisa kita ambil adalah saat tes untuk menjadi ASN kita lebih menggalakkan lagi rasa cinta tanah air dan juga mungkin sosialisasi pemahaman ideologi Pancasila yang benar-benar universal dan cocok untuk diterapkan di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*