Siaran Pers Tentang Laporan Survei Toleransi Siswa SMA Negeri Jakarta & bandung Raya
Ilustrasi : vivanews.co.id

Siaran Pers Tentang Laporan Survei Toleransi Siswa SMA Negeri Jakarta & bandung Raya

SETARA Institute, Jakarta 24 Mei 2016

SETARA Institute sebagai salah satu organisasi yang memiliki mandat menghormati, memajukan, dan membela pluralisme dan hak asasi manusia sejak 3 tahun terakhir memberikan perhatian pada kondisi toleransi di sektor pendidikan. Sejalan dengan berbagai gambaran di atas, Setara Institute membidik pelajar pada Sekolah Menengah Atas (SMA) yang berada pada fase early adolescent, middle adolescent dan menuju fase late adolescent sebagai salah satu bagian dari upaya pendidikan publik. Sejumlah intervensi telah dilaksanakan sepanjang 2013-2015 misalnya dengan membentuk modul pendidikan toleransi, training bagi guru SMA di Jakarta, Bandung, dan Semarang, training toleransi bagi pelajar SMA, dan menyediakan bahan bacaan dalam bentuk komik yang mudah dipahami bagi pelajar.

Untuk mengetahui situasi mutakhir tentang toleransi di lingkungan pelajar SMA Jakarta dan Bandung Raya, Setara Institute menyelenggarakan survei opini siswa tentang toleransi.

Survei ini bertujuan untuk mengetahui tingkat toleransi siswa SMA di Jakarta dan Bandung Raya di tahun 2016.

 

Metodologi

Lokasi survei adalah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta kecuali Kepulauan Seribu dan Bandung Raya yang terdiri dari Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bandung, dan Kota Cimahi.Pelaksanaan survey ini dilakukan sejak tanggal 4 – 18 April 2016.

Populasi dari survey ini adalah seluruh siswa-siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri di Jakarta dan Bandung Raya sebanyak 171 sekolah dengan rincian Jakarta sebanyak 106 sekolah dan Bandung Raya 65 sekolah.

Dalam survey ini, sampel dipilih secara acak berdasarkan prosedur berjenjang atau teknik multi-stage random sampling. Teknikpengambilansampel dilakukan dengan mengacak probabilitas dari tingkat kota/kabupaten di Jakarta dan Bandung Raya sampai dengan unit terkecil yaitu kelas.Primary sampling unit-nya adalah kelas. Dari jumlah populasi dengan perkiraan 18.000 siswa/siswi, survei ini mengambil sampel sebanyak 760 siswa. Dengan jumlah sampel ini survei ini berada pada tingkat kepercayaan 95% dengan margin of error 5%.

Pengambilan sampel pada setiap kelas yang terpilih dilakukan dengan metode simple random sampling, di mana masing-masing sekolah diambil 20 siswa/siswi sebagai responden, sehingga total responden dalam survey ini sebanyak 760. Spot check sebagai quality control method dilakukan terhadap 20% sampel

Temuan Survei

  1. Dari segi demografi, responden survei ini mencerminkan proporsi jumlah penduduk secara nasional dari segi agama, dimana responden yang beragama Islam dominan dengan (88%). Dari segi usia, responden berada pada fase middle adolescent dan late adolescent yang berusia 15-19 tahun. Sementara dari segi jenis kelamin, proporsi laki-laki (57%) dan perempuan (43%).
  2. Dilihat dari status sosial ekonomi, maka orang tua responden berada pada kelas menengah ke bawah dengan profesi yang beragam. Hanya (1%) yang kemungkinan berada di kelas menengah ke atas dengan penghasilan di atas 8.000.000 per bulan.
  3. Seluruh siswa dapat dipastikan terbiasa mengakses internet. Bahkan sebanyak (41%) siswa mengakses internet lebih dari 5 jam sehari. Kebiasaan mengakses internet ini telah menjadikan internet sebagai salah satu rujukan utama prilaku siswa. Sebagian besar (87.8%) siswa menggunakan internet untuk memperoleh pengetahuan agama. Namun demikian, soal agama bukanlah topik favorit siswa untuk dikunjungi atau diperbincangkan di media sosial. Media habit siswa SMA menunjukkan bahwa teknologi komunikasi memiliki peranan penting dalam pertumbuhan siswa. Pada saat yang sama, media habit semacam ini juga rentan dari ancaman konten yang tidak bermutu atau tidak produktif.
  4. Selain mengikuti kegiatan pembelajaran di sekolah, siswa juga memiliki kegiatan tambahan di aneka kegiatan ektrakurikuler. Olahraga dan Rohis/Rokris adalah dua jenis kegiatan ekstrakurikuler favorit siswa dengan prosentase (37.1%) dan (21.6%). Selain itu (44%) siswa mengikuti kegiatan keagamaan di luar sekolah. Sebagian besar siswa yang mengikuti kegiatan di luar sekolah memilih kegiatan kajian keagamaan (yang aktif dan partisipatif) sebagai jenis kegiatan yang paling banyak diikuti. Sementara topik kesalehan pribadi adalah yang dominan dibahas dalam berbagai kegiatan keagamaan. Namun demikian, terdapat (7%) membahas masalah sosial dan politik. Temuan ini menggambarkan bahwa kegiatan keagamaan di luar sekolah menjadi alternatif siswa untuk memperoleh pengetahuan keagamaan. Bahkan tak jarang mereka membahas topik sosial politik. Meski demikian, sumber utama pengetahuan keagamaan siswa tetap didominasi oleh guru di sekolah (9%). Besarnya peran guru dibanding dengan orang tua sekalipun (23.2%) menunjukkan bahwa guru memiliki pengaruh dominan dalam membentuk pandangan keagamaan siswa. Karenanya guru merupakan salah satu sektor yang perlu memperoleh perhatian lebih, selain kurikulum, model pembelajaran, dan siswa itu sendiri.
  5. Dengan profil responden, media habit, dan aktivitas responden sebagaimana digambarkan di atas, siswa dalam survei ini secara umum memiliki pengetahuan tentang toleransi yang cukup baik. Temuan ini diperoleh dari 25 pertanyaan yang disajikan dalam 17 grafik. Siswa memiliki klaim kebenaran tinggi atas agama yang dianutnya (97.1%); sebaliknya siswa juga cukup tinggi mengatakan agama lain tidak benar (68.9%). Meskipun demikian, siswa juga sebagian besar memberikan toleransi atas berbagai perbedaan, seperti perbedan cara melakukan ibadah. Sementara pada aspek yang lebih prinsipil misalnya, siswa sebagian mengatakan tidak setuju menikah beda agama, apalagi jika anggota keluarga mereka yang melakukan nikah beda agama. Siswa juga mengataka bahwa orang yang tidak beragama sebagai yang tidak bermoral dan/atau kafir.
  6. Gambaran pada dimensi toleransi sosial keagamaan siswa terbilang positif dan menggambarkan kecenderungan yang sebenarnya, dimana secara sosial pada dasarnya toleransi masyarakat cukup tinggi, kecuali pada aspek yang sangat fundamental. Misalnya, sebanyak (36%) siswa setuju bahwa Ahmadiyah dan Syiah dan aliran keagamaan tertentu lainnya dibatasi. Termasuk pada aspek yang fundamental adalah bahwa siswa umumnya menolak organisasi keagamaan tertentu yang hendak menggantikan Pancasila dengan dasar negara yang lain (81%), yang menggunakan kekerasan dalam memperjuangkan keyakinannya (79.47%), yang mengkafirkan kelompok lain (74.47%), dan juga menolak pada mereka yang melakukan pelarangan-pelarangan pendirian rumah ibadah (85.26%).
  7. Pada dimensi sosial politik, survei ini mengajukan 7 pertanyaan yang disajikan dalam 4 grafik. Sebagian besar siswa tidak mempertimbangkan agama sebagai variabel dalam menentukan preferensi politiknya. Meskipun masih terdapat (8%) siswa yang menyatakan bahwa pemimpin di lingkungan OSIS harus seagama dan (29.5%) bahwa Bupati/Walikota/dan Gubernur harus seagama. Temuan ini tampaknya yang masih dimanfaatkan oleh elit politik dengan menjadikan agama sebagai kapital politik baru untuk menghimpun dukungan politik atau menundukkan lawan politiknya. Atas dasar itu, jika terjadi head to head dua kandidat yang berbeda agama (29.5%) responden akan memilih calon yang seagama.
  8. Demokrasi, yang dipersepsi siswa sebagai pemerintahan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakayat, juga masih didukung oleh (86%) Tetapi terdapat (11%) siswa yang menyatakan bahwa khilafah adalah sistem terbaik bagi pemerintahan Indonesia.
  9. Pada dimensi ideologis, survei ini mengajukan 11 pertanyaan yang disajikan dalam 11 grafik. Temuan pada dimensi ini masih cukup mengkhawatirkan karena pilihan untuk penegakan syariat Islam dalam arti bahwa seluruh kehidupan manusia di Indonesia diatur dengan hukum Islam masih didukung oleh (58%) siswa. Survei ini menyadari keterbatasan pengukuran pada topik syariat Islam, karena bisa jadi asumsi siswa tentang syariat Islam adalah bentuk kepatuhan umat beragama pada agama yang dianutnya. Karena sejatinya, jika demokrasi menjadi pilihan terbaik sistem bernegara, maka semestinya bukan agama yang menjadi variabel utama sebagai sumber hukum. Meski demikian, bisa jadi pandangan siswa juga mengafirmasi perihal penggunaan agama sebagai salah satu sumber rujukan dalam memproduksi hukum positif melalui proses demokrasi.
  10. Berbeda dengan ihwal syariat Islam, pandangan siswa tentang jihad justru positif. Hanya (2%) responden yang mengartikan bahwa jihad adalah berjuang menegakkan ajaran agama secara utuh dengan cara apapun termasuk dengan menggunakan kekerasan. Sejalan dengan pemaknaan positif siswa akan makna jihad, dimata siswa, keberadaan ISIS bukanlah manifestasi jihad seperti yang selama ini diklaim. Sebanyak (70%) responden mengatakan bahwa ISIS adalah organisasi kekerasan yang mengatasnamakan agama. Meskipun demikian, terdapat (1%) responden yang menyatakan mendukung apa yang diperjuangkan ISIS. Demikian juga terdapat (0,4%) responden yang menyatakan mendukung aksi terorisme.
  11. Dari seluruh pertanyaan pada tiga dimensi yang dipaparkan, Setara Institute mengadopsi teori the Staircase to Terrorism (Mughoddam, 2005) tentang tangga-tangga menuju terorisme. Dengan menggunakan 18 pertanyaan kunci yang dipilih pada tiga dimensi sosial, politik, dan ideologis, Setara Institute memberikan skor pada setiap jawaban responden untuk memperoleh status toleransisetiapresponden: toleran, intoleranpasif/puritan, intoleranaktif/radikal, dan teroris. Akumulasi jawaban dari 18 pertanyaan itu meletakkan kategori responden pada derajat yang berbeda-beda sebagai berikut:

 

 

Grafik

Kategorisasi Responden berdasarkan 18 Pertanyaan Kunci

 

 Untitled

  1. Grafik di atas menggambarkan bahwa dari 760 responden yang terlibat dalam survei ini, maka terdapat (61.6%) siswa yang toleran, (35.7%) yang intoleranpasif/puritan, (2,4%) yang intoleranaktif/radikal, dan (0,3%) yang berpotensi menjadi teroris.
  2. Survei ini merekomendasikan:
  3. Pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan danKementerian Agama serta Dinas-Dinas Pendidikan di tingkat provinsi/kabupaten/kota memberikan perhatian seksama pada dinamika toleransi siswa di sekolah, termasuk memastikan iklim yang kondusif bagi promosi dan penguatan toleransi di lingkungan pendidikan.
  4. Pemerintah memberikan pendidikan berkelanjutan bagi para guru-guru Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, dan guru relevan lainnya untuk meningkatkan kapasitasnya dalam mempromosikan dan mentransformasikan pengetahuan dan perilaku toleran pada siswa karena guru adalah variabel utama pembentuk karakter toleransi dan intoleransi siswa.
  5. Pemerintah memastikan kualitas kurikulum dan buku ajar yang kondusif bagi promosi dan penguatan toleransi siswa di sekolah.
  6. Bahwa terorisme adalah puncak dari intoleransi, maka kinerja pemberantasan terorisme dan radikalisme juga harus mencakup pada promosi dan penguatan toleransi bagi siswa yang berada pada derajat intoleran pasif/puritan dan intoleranaktif/ Tangga intoleranaktif/radikal adalah satu langkah menuju terorisme.

 

Contact Person:

Bonar Tigor Naipospos, Wakil Ketua Setara Institute             0811 819 174

Aminuddin Syarif, Peneliti Setara Institute                              0856 970 60119

Sharing is caring!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*