Persepsi Siswa/Siswi SMU Negeri di Jakarta dan Bandung terhadap Toleransi

Persepsi Siswa/Siswi SMU Negeri di Jakarta dan Bandung terhadap Toleransi

  1. Dalam rangka memotret kondisi toleransi di dunia pendidikan, SETARA Institute menyelenggarakan survei terhadap siswa-siswi SMU di Jakarta dan Bandung. Survei ini ditujukan untuk memperoleh pemetaan yang jelas dan valid bagi penyusunan intervensi pendidikan toleransi di sekolah-sekolah. Jakarta dan Bandung dipilih sebagai area studi ini atas dasar bahwa Jakarta adalah barometer kota di Indonesia dan Bandung adalah wilayah dengan tingkat intoleransi tinggi dalam setiap pemantauan kondisi kebebasan beragama/berkeyakinan, yang diterbitkan setiap tahun.
  2. Survei persepsi ini, berpopulasi 171 SMU Negeri dengan sampel 114 sekolah. Sebanyak 76 di Jakarta dan 38 di Bandung, dengan metode simple random sampling. Dari masing-masing sekolah, diambil 6 siswa/siswi sebagai responden, sehingga total responden dalam survei ini sebanyak 684. Dengan populasi 171 sekolah, maka survei ini berada pada tingkat kepercayaan sebesar 95% dengan margin of error sebesar 4,7. Survei ini dilakukan 9-19 Maret 2015 dengan melibatkan 114 interviewer. Spot check sebagai quality control method dilakukan terhadap 20% dari sampel. Survei ini tidak mewakili kecenderungan siswa di SMU di seluruh Indonesia.
  3. Selain menggali aspek demografi responden, ada tiga variabel yang diukur dalam survei ini (a) dimensi pengetahuan umum tentang toleransi (b) dimensi sosial-politik, dan (c) dimensi ideologis.
  4. Komposisi responden dalam survei ini adalah 56,3% (385 responden) laki-laki dan 43,7% (299 responden). Mayoritas responden beragama Islam (86,3%). Sementara domisili responden tersebar di 3 lokasi: 52,5% Jakarta, 5,1% Banten, dan 42,3% di Bandung Raya.
  5. Responden dalam survei ini sebagian besar 67% menjadikan internet sebagai sumber informasi. Sedangkan 29,1% memilih televisi. Sisanya adalah koran, penyuluhan, dll. Sebagian besar 52,0% menyatakan dalam seminggu sering mengakses internet dan media lain. Sedangkan 38,5% menyatakan kadang-kadang.
  6. Siswa yang menjadi responden dalam survei ini, selain mengikuti kegiatan intrakurikuler juga mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan favorit siswa adalah olahraga (33,9%), Kerohanian (10,1%), lainnya ada Beladiri, Pramuka, PMR, Band sekolah, dan lainnya. Selain mengikuti kegiatan sekolah, siswa dalam survei ini juga mengikuti kegiatan keagamaan di luar sekolah. Sebanyak 35,4% responden mengikuti kegiatan keagamaan di luar sekolah. Sedangkan sebagian besar 57,6% menyatakan sebaliknya. Selanjutnya, survei ini juga mendeteksi kegiatan apa yang diikuti oleh siswa di luar sekolah. Sebanyak 27,3% mengikuti kegiatan Rohis/Rohkris, 22,3% remaja masjid, 9,1% remaja gereja, 20,7% pengajian. Sisanya adalah perayaan keagamaan dan studi keagamaan. Survei ini juga menemukan bahwa 48% siswa memperoleh pengetahuan agama dari guru agama di sekolah. Sedangkan dari orang tua sebanyak 18%, dan media informasi sebanyak 12%.
  7. A. Dimensi Pengetahuan Siswa

  8. Sebanyak 64,8% responden menyatakan bahwa guru agama di sekolah dipersepsi oleh siswa telah memberikan pengetahuan tentang toleransi yang cukup. Sementara 20,9% menyatakan guru agama tidak/belum memberikan pengetahuan tentang toleransi. Dari responden yang menyatakan bahwa guru agama telah memberikan pengetahuan tentang toleransi, sebanyak 54,4% menyatakan bahwa guru agama telah cukup jelas memberikan makna kebhinekaan. Sedangkan 28,7% menyatakan sebaliknya: bahwa guru agama di sekolah belum memberikan pengetahuan yang jelas.
  9. Sementara aspek kurikulum atau materi pengetahuan agama, para siswa menganggap bahwa materi pendidikan agama mendukung pemahaman tentang kebhinekaan (49,9%). Sedangkan yang menyatakan sebaliknya adalah (31,8%). Sisanya menyatakan tidak tahu.
  10. Pengetahuan siswa tentang toleransi dapat dibilang progresif. Karena sebanyak 75% siswa menganggap bahwa toleransi adalah menghormati perbedaan dan menjaga agar tidak terjadi konflik. Artinya tidak melulu menerima keberagaman sebagai fakta sosioantropologis tetapi lebih dari itu mereka meletakkan toleransi sebagai sesuatu yang harus diperjuangkan (civic pluralism). Dengan pendapat yang progresif ini, maka sebagian besar siswa menolak politik penyeragaman atas nama agama tertentu (76,5%) di mana setiap orang harus mengikuti agama yang paling banyak dianut. Mereka mengatakan (90,8%) bahwa semua orang bebas memeluk agama dan kepercayaan sesuai hati nurani, karena di mata responden (74,4%) Indonesia adalah negara yang menghargai perbedaan.

    B. Dimensi Sosial Politik

  11. Sejalan dengan pemahaman toleransi siswa, sebanyak 79,5% siswa tidak mempertimbangkan aspek agama dalam memilih teman sejawat. Tetapi jika diuji penerimaan mereka, maka ada gradasi penerimaan/ tingkat kebersediaan dalam setiap aspek yang digunakan untuk menguji. Sebanyak 86,5% menerima mereka yang berbeda golongan. Menerima mereka yang berbeda agama (90,4%), menerima yang berbeda suku (92,4%), dan menerima yang berbeda warna kulit (95,2%).
  12. Masih pada aspek sosial, sebanyak 95,2% responden menyatakan akan menjenguk teman yang mengalami musibah. Tetapi terhadap pewajiban jilbab bagi siswi di SMU, pendapat responden terbelah. Sebanyak 44% menyatakan tidak setuju, sedangkan sebanyak 38% menyatakan setuju pewajiban jilbab.
  13. Di setiap sekolah hampir semuanya terdapat tempat ibadah. Pendapat ini diafirmasi oleh 92,1% siswa. Temuan positif pada aspek ini berikutnya adalah persetujuan 74,4% siswa jika di sekolah disediakan tempat ibadah bagi semua agama. Angka positif juga diperoleh jika di sekolah dirayakan kegiatan keagamaan bagi semua agama yang dianut siswa (70,6%). Sementara terkait akses penggunaan fasilitas sekolah bagi semua agama terdapat 68,7% yang menyatakan persetujuannya.
  14. Dalam survei ini 72,2% responden mengatakan bahwa pemimpin di lingkungan RT, RW, Lurah, Bupati/Walikota tidak harus seagama. Sedangkan yang menyatakan harus seagama sebanyak 22,2%. Tetapi jika dalam sebuah pemilihan head to head kandidat itu beragama berbeda, maka yang akan dipilih adalah calon yang seagama (34,5%). Sebagian besar tetap tidak akan mempersoalkan latar belakang agama (57,7%).
  15. C. Dimensi Ideologis

  16. Pada dimensi ideologis, terdapat beberapa isu yang dijadikan alat uji. Pada bagian pertama terkait dengan aliran keagamaan Islam Syiah dan Ahmadiyah. Sebanyak 35,4% siswa pernah mendengar tentang Ahmadiyah dan Syiah. Sisanya 57,6% menyatakan tidak pernah. Dari 35,4% (242 responden), sebanyak (43,8%) menyatakan bahwa mereka setuju pembatasan terhadap Syiah dan Ahmadiyah. Sedangkan yang menyatakan tidak setuju sebanyak (27,7%).
  17. Responden juga ditanya terkait adanya gagasan mengganti Pancasila dengan dasar agama. Sebanyak 8,5% responden (58 siswa) menyatakan setuju jika Pancasila diganti dengan dasar agama. Sedangkan sebagian besar 69,3% menyatakan kebalikannya, tidak setuju.
  18. Para siswa juga mendukung organisasi tertentu yang melarang pendirian rumah ibadah (11,3%); menggunakan kekerasan dalam memperjuangkan keyakinannya (7,3%); mengganti Pancasila sebagai dasar negara (8,1%), dan menyebarkan kebencian terhadap kelompok agama/aliran lain (4,2%). Sekalipun dukungan terhadap aspek-aspek di atas terbilang kecil, tetapi persentase dukungan tersebut harus mendapat penyikapan serius dari semua pihak.
  19. Dari seluruh siswa yang menjadi responden survei ini, sebagian besar (75,3%) pernah mendengar/tahu tentang keberadaan Gerakan Islamic State in Iraq and Syiria (ISIS). Dari 75,3% (516 responden) tersebut, masing-masing responden memiliki kesan berbeda-beda. Sebanyak 36,2% berpendapat ISIS adalah kelompok teror yang sadis. Sejalan dengan kesan pertama, terdapat 30,6% responden menganggap ISIS sebagai pelaku kekerasan yang mengatasnamakan agama. Hanya 16,9% mengatakan bahwa ISIS adalah perjuangan mendirikan negara Islam dunia (khilafah Islam di dunia). Sisanya mengatakan ISIS adalah anti negara-negara Barat (4,5%).
  20. Dari 516 responden (75,3%) yang menyatakan tahu tentang ISIS, yang setuju dengan gerakan ini sebanyak (9,5%) atau 49 responden. Jika melihat total responden sebanyak 684, maka angka 49 ini berarti 7,2%. Atau dengan kata lain, maka setidaknya ada 1 dari 14 siswa yang setuju dengan gerakan ISIS. Persetujuan ini tidak berarti ada ketertarikan siswa untuk terlibat dalam gerakan ISIS. Namun demikian, angka persetujuan ini juga merupakan peringatan serius bagi Indonesia.

Selengkapnya:
DOWNLOAD
grafik survei siswa presentasi.pdf

Sharing is caring!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*