Error. Page cannot be displayed. Please contact your service provider for more details. (5)

Kebebasan Beragama Terancam
Foto: Grafis/MEDIAINDONESIA.COM

Kebebasan Beragama Terancam

KEBEBASAN beragama berada di lampu kuning. Pelanggaran kebebasan beragama di Indonesia melonjak dalam tiga tahun terakhir.

Demikian laporan pelanggaran kebebasan beragama pada 2016 yang disampaikan Setara Institute.

“Kalau dilihat polanya, peningkatannya (pelanggaran kebebasan beragama) terus berlanjut. Kalau tidak ada keseriusan pemerintah, bukan tidak mungkin kecenderungan itu bakal terus meluas. Sudah saatnya (pemerintah) bertindak cepat,” ujar Wakil

Ketua Setara Institute Bonar Tigor Naipospos saat konferensi pers di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, pihaknya menemukan 208 peristiwa yang berujung pada 270 tindakan pelanggaran kebebasan beragama di Indonesia selama 2016.

Angka itu menyentuh level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

Selama 2015, laporan yang sama hanya mencatatkan 197 peristiwa yang berujung pada 236 tindakan pelanggaran kebebasan beragama.

Sementara itu, selama 2014, hanya terjadi 134 peristiwa yang berujung pada 177 aksi intoleransi.

Bonar menyebut berbagai gangguan terhadap hak kebebasan beragama, seperti kekerasan dan ancaman terhadap kelompok minoritas, pengusiran, pembubaran tempat ibadah, dan pemaksaan keyakinan.

Pemerintah, lanjutnya, tak bisa terus-menerus membiarkan adanya persinggungan soal keberagaman di masyarakat yang majemuk.

“Intoleransi sudah semakin menguat di masyarakat. Pemerintah Jokowi-Jusuf Kalla harus segera membentuk komisi kebebasan beragama.”

Komisi itu, ujar dia, perlu menempatkan berbagai tokoh agama yang bertugas memastikan kerukunan antarumat beragama.

“Mereka harus punya rekam jejak yang baik soal hidup di dalam kemajemukan.”

Jabar tertinggi
Di tempat yang sama, peneliti Setara Institute Halili Hasan mengungkapkan, pada dasarnya seluruh bentuk pelanggaran hak kebebasan berkeyakinan tersebar di 24 provinsi.

Namun, sebaran intoleransi justru lebih banyak terjadi di Jabar dengan 41 peristiwa, DKI (31), dan Jatim (22).

“Jabar selalu menjadi jawara pelanggaran kebebasan beragama. Sepuluh kota dengan tingkat intoleransi tertinggi, tujuh di antaranya berada di Jabar.”

Halili menyatakan banyak faktor yang menyebabkan bertumbuhnya paham intoleran, di antaranya pemerintah daerah membiarkan bertumbuhnya ormas intoleran.

Setara Insitute merekomendasikan pemerintah jangan hanya seperti pemadam kebakaran, tetapi harus mendesain pendidikan kebinekaan sejak dini.

Sebelumnya, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (HAM) mendapatkan 97 pengaduan terkait pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan sepanjang 2016.

Jumlah tersebut bertambah 10 pengaduan jika dibandingkan dengan 2015 yang berjumlah 87 kasus.

Dari kasus tersebut, perusakan tempat ibadah paling banyak diadukan.

Terkait dengan temuan bahwa kepolisian paling banyak melakukan pelanggaran kebebasan beragama, Karo Penmas Divisi Humas Polri Kombes Rikwanto mengatakan Polri justru banyak membantu masyarakat dalam kegiatan berkeyakinan atau keagamaan dengan baik.

Nuriman Jayabuana
Sumber: MEDIAINDONESIA.COM

Sharing is caring!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*