Antisipasi Gangguan Kelompok Konservatif!
Rangkaian kegiatan sedekah laut seperti pawai ancak dan larungan yang diadakan di Kota Tegal, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Fajar Eko Nugroho)

Antisipasi Gangguan Kelompok Konservatif!

Sebagaimana diberitakan oleh banyak media publik, gelaran budaya Sedekah Laut yang sebelumnya rutin digelar oleh nelayan Pantai Baru Bantul mendapatkan gangguan serius. Sebagian besar rangkaian acara batal dilaksanakan pada hari Sabtu (13/10/2018). Pada malam sebelumnya, sekitar 50-an orang pria bercadar menggeruduk lokasi, mengobrak-abrik, dan membubarkan persiapan gelaran acara. Atas peristiwa tersebut, SETARA Institute menyampaikan beberapa pernyataan berikut.

Pertama, peristiwa pembubaran dan perusakan di Pantai Baru berkaitan dengan acara Sedekah Laut menegaskan terjadinya fenomena pengerasan identitas keagamaan dan peningkatan resistensi atas identitas yang berbeda (liyan) di kalangan kelompok-kelompok intoleran dan radikal. Dalam beberapa tahun terakhir, serangan terhadap aktivitas masyarakat dalam rangka melestarikan kebudayaan nusantara telah terjadi secara berulang di beberapa daerah, di Jawa Timur, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan sebagainya.

Kedua, dalam catatan SETARA Institute dari berbagai riset yang telah dilakukan, terjadi penguatan basis sosial bagi konservatisme keagamaan, radikalisme dan ekstremisme kekerasan (violent extremism). Riset SETARA di DKI Jakarta dan Bandung Raya (2015-2016) menemukan banyaknya pelajar di sekolah-sekolah menengah atas negeri yang menganggap wajar bahkan mendukung cara-cara kekerasan dan penghancuran yang dilakukan oleh ISIS. Sebagaimana kita tahu, ISIS sejak awal gerakannya mengglorifikasi panji-panji keagamaan antara lain dengan cara menghancurkan situs-situs kebudayaan dan warisan budaya dunia (world cultural heritage).

Penguatan basis sosial konservatisme, radikalisme, dan bahkan ekstremisme kekerasan ini harus diwaspadai dan diintervensi secara preventif. Sebab hal itu dapat menjadi ancaman di level sosial terhadap penyelenggaraan berbagai kegiatan-kegiatan pelestarian kebudayaan nusantara. Gelaran-gelaran budaya tersebut sangat mungkin dibubarkan oleh kelompok-kelompok radikal dan ekstremis dengan berbagai dalih keagamaan, mulai dari ‘syirik’, ‘bid’ah’, dan sebagainya.

Ketiga, berkaitan dengan situasi tersebut SETARA Institute mendukung sepenuhnya langkah-langkah kepolisian untuk menegakkan hukum setuntas-tuntasnya untuk memberikan efek jera bagi pelaku dan kelompoknya serta yang lebih penting memberikan jaminan rasa aman bagi seluruh warga dalam melestarikan kebudayaan nusantara. Polisi juga harus bertindak proaktif untuk mengantisipasi aneka bentuk gangguan dari kelompok-kelompok intoleran, konservatif, dan radikal.

Keempat, berkaitan dengan kejadian di Bantul, kepada pemerintah daerah, baik di tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta maupun Kabupaten Bantul hendaknya merancang strategi-strategi sosio-kultural untuk mengantisipasi penguatan konservatisme yang dapat mengganggu pelestarian budaya, merusak harmoni dan kohesi sosial, serta melanggar hak dasar seluruh warga atas rasa aman. Pemerintah lokal juga harus memastikan bahwa kejadian di Bantul tidak mempengaruhi kondisi psikososial warga agar selalu ‘gumregah’ dalam ‘nguri-uri’ budaya nusantara.

SETARA Institute, 14 Oktober 2018

Narahubung:
Halili (Direktur Riset Setara Institute): 085230008880

Sharing is caring!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*